Saya melihat kegairahan baru peradaban Islam di Tanah Air merupakan modal dasar yang paling berharga bagi Indonesia untuk bisa menjadi pusat kebudayaan Islam dunia, termasuk dalam hal dunia fesyen. Kegairahan baru ini harus dimanfaatkan momentumnya untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat fesyen Islam dunia.
Kegairahan baru ini membawa implikasi yang sangat positif bagi perkembangan fesyen Islam di Tanah Air. Pertama, pasar fesyen Islam di Indonesia tumbuh pesat luar biasa dalam lima tahun terakhir. Memakai hijab kini tak hanya sekedar kewajiban tapi sudah menjadi gaya hidup yang fashionable. Tren baru iniah yang membuat pasar hijab bergairah luar biasa.
Pasar hijab yang sangat besar inilah (ingat, Indonesia adalah negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia) yang bisa dijadikan “senjata” bagi Indonesia untuk menjadi pusat fesyen Islam dunia. Besarnya pasar bisa menjadi “posisi tawar” yang ampuh untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat fesyen Islam dunia.
| toko tas |
Dalam diskusi dengan temen-temen Hijabers Community beberapa minggu lalu, ada pemikiran menarik yang diungkapkan bu Euis Saedah. Kata beliau, Indonesia harus mengembangkan pusat-pusat industri kreatif (cluster) fesyen Islam di berbagai kota. Munculnya cluster-cluster industri fesyen Islam inilah yang akan menjadi lokomotif bertumbuh industri ini.
Sekarang ini kita mengenal di Solo terdapat kampung Laweyan yang dikenal sebagai cluster industri batik. Di Yogya ada Kasongan yang menjadi cluster industri kerajinan gerabah/keramik. Atau di Jepara kita punya cluster untuk industri ukiran kayu. “Maka kini saatnya kita juga harus mengembangkan cluster-cluster industri fesyen Islam yang tersebar di berbagai kota di seluruh Tanah Air,” ujar bu Dirjen